MAYORITAS KAUM MUSLIMIN SEKARANG INI TIDAK MEMAHAMI MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAH DENGAN PEMAHAMAN YANG BAIK

7:19 PM  Posted In                        Edit This               0 Comments  »
MAYORITAS KAUM MUSLIMIN SEKARANG INI TIDAK MEMAHAMI MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAH DENGAN PEMAHAMAN YANG BAIK

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Mayoritas kaum muslimin sekarang ini yang telah bersaksi Laa Ilaaha Illallah (Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah) tidak memahami makna Laa Ilaaha Illallah dengan baik, bahkan barangkali mereka memahami maknanya dengan pemahaman yang terbalik sama sekali. Saya akan memberikan suatu contoh untuk hal itu : Sebagian di antara mereka (Dia adalah Syaikh Muhammad Al-Hasyimi, salah seorang tokoh sufi dari thariqah Asy-Syadziliyyah di Suriah kira-kira 50 tahun yang lalu) menulis suatu risalah tentang makna Laa Ilaaha Illallah, dan menafsirkan dengan "Tidak ada Rabb (pencipta dan pengatur) kecuali Allah" !! Orang-orang musyrik pun memahami makna seperti itu, tetapi keimanan mereka terhadap makna tersebut tidaklah bermanfaat bagi mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah : "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. [Luqman: 25]

Orang-orang musyrik itu beriman bahwa alam semesta ini memiliki Pencipta yang tidak ada sekutu bagi-Nya, tetapi mereka menjadikan tandingan-tandingan bersama Allah dan sekutu-sekutu dalam beribadah kepada-Nya. Mereka beriman bahwa Rabb (pengatur dan pencipta) adalah satu (esa), tetapi mereka meyakini bahwa sesembahan itu banyak. Oleh karena itu, Allah membantah keyakinan ini yang disebut dengan ibadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada Allah melalui firman-Nya:

"Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar." [Az-Zumar : 3].

Kaum musyrikin dahulu mengetahui bahwa ucapan Laa Ilaaha Illallah mengharuskannya untuk berlepas diri dari peribadatan kepada selain Allah Azza wa Jalla. Adapun mayoritas kaum muslimin sekarang ini, menafsirkan kalimat thayyibah Laa Ilaaha Illallah ini dengan : "Tidak ada Rabb (pencipta dan pengatur) kecuali Allah". Padahal apabila seorang muslim mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dan dia beribadah kepada selain Allah disamping beribadah kepada Allah, maka dia dan orang-orang musyrik adalah sama secara aqidah, meskipun secara lahiriah adalah Islam, karena dia mengucapkan lafazh Laa Ilaaha Illallah, sehingga dengan ungkapan ini dia adalah seorang muslim secara lafazh dan secara lahir.

Dan ini termasuk kewajiban kita semua sebagai da'i Islam untuk menda'wahkan tauhid dan menegakkan hujjah kepada orang-orang yang tidak mengetahui makna Laa Ilaaha Illallah dimana mereka terjerumus kepada apa-apa yang menyalahi Laa Ilaaha Illallah. Berbeda dengan orang-orang musyrik, karena dia enggan mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, sehingga dia bukanlah seorang muslim secara lahir maupun batin. Adapun mayoritas kaum muslimin sekarang ini, mereka orang-orang muslim, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Apabila mereka mengucapkan (Laa Ilaaha Illallah), maka kehormatan dan harta mereka terjaga dariku kecuali dengan haknya, dan perhitungan mereka atas Allah Subhanahu wa Ta'ala". [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari (25) dan pada tempat lainnya, dan Muslim (22), dan selainnya, dari hadits Ibnu Umar Radhiyallahu anhum]

Oleh karena itu, saya mengatakan suatu ucapan yang jarang terlontar dariku, yaitu : Sesungguhnya kenyataan mayoritas kaum muslimin sekarang ini adalah lebih buruk daripada keadaan orang Arab secara umum pada masa jahiliyah yang pertama, dari sisi kesalahpahaman terhadap makna kalimat thayyibah ini, karena orang-orang musyrik Arab dahulu memahami makna Laa Ilaaha Illallah, tetapi mereka tidak mengimaninya. Sedangkan mayoritas kaum muslimin sekarang ini mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka yakini, mereka mengucapkan : 'Laa Ilaaha Illallah' tetapi mereka tidak mengimani -dengan sebenarnya- maknanya. (Mereka menyembah kubur, menyembelih kurban untuk selain Allah, berdo'a kepada orang-orang yang telah mati, ini adalah kenyataan dan hakikat dari apa-apa yang diyakini oleh orang-orang syi'ah rafidhah, shufiyah, dan para pengikut thariqah lainnya, berhaji ke tempat pekuburan dan tempat kesyirikan dan thawaf di sekitarnya serta beristighatsah (meminta tolong) kepada orang-orang shalih dan bersumpah dengan (nama) orang-orang shalih adalah merupakan keyakinan-keyakinan yang mereka pegang dengan kuat).

Oleh karena itu, saya meyakini bahwa kewajiban pertama atas da'i kaum muslimin yang sebenarnya adalah agar mereka menyeru seputar kalimat tauhid ini dan menjelaskan maknanya secara ringkas. Kemudian dengan merinci konsekuensi-kosekuensi kalimat thayyibah ini dengan mengikhlaskan ibadah dan semua macamnya untuk Allah, karena ketika Allah Azza wa Jalla menceritakan perkataan kaum musyrikin, yaitu :

"Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar." [Az-Zumar : 3]

Allah menjadikan setiap ibadah yang ditujukan bagi selain Allah sebagai kekufuran terhadap kalimat thayyibah Laa Ilaaha Illallah. Oleh karena itu, pada hari ini saya berkata bahwa tidak ada faedahnya sama sekali upaya mengumpulkan dan menyatukan kaum muslimin dalam satu wadah, kemudian membiarkan mereka dalam kesesatan mereka tanpa memahami kalimat thayyibah ini, yang demikian ini tidak bermanfaat bagi mereka di dunia apalagi di akhirat !.
Kami mengetahui sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
"Artinya : Barangsiapa mati dan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dengan ikhlas dari hatinya, maka Allah mengharamkan badannya dari Neraka" dalam riwayat lain : "Maka dia akan masuk Surga". [Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (5/236), Ibnu Hibban (4) dalam Zawa'id dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (3355)].

Maka mungkin saja orang yang mengucapkan kalimat thayyibah dengan ikhlas dijamin masuk Surga. meskipun setelah mengucapkannya menerima adzab terlebih dahulu. Orang yang meyakini keyakinan yang benar terhadap kalimat thayyibah ini, maka mungkin saja dia diadzab berdasarkan perbuatan maksiat dan dosa yang dilakukannya, tetapi pada akhirnya tempat kembalinya adalah Surga.
Dan sebaliknya barangsiapa mengucapkan kalimat tauhid ini dengan lisannya, sehingga iman belum masuk kedalam hatinya, maka hal itu tidak memberinya manfaat apapun di akhirat, meskipun kadang-kadang memberinya manfaat di dunia berupa kesalamatan dari diperangi dan dibunuh, apabila dia hidup di bawah naungan orang-orang muslim yang memiliki kekuatan dan kekuasaan. Adapun di akhirat, maka tidaklah memberinya manfaat sedikitpun kecuali apabila :
[1] Dia mengucapkan dan memahami maknanya.
[2] Dia meyakini makna tersebut, karena pemahaman semata tidaklah cukup kecuali harus dibarengi keimanan terhadap apa yang dipahaminya.
Saya menduga bahwa kebanyakan manusia lalai dari masalah ini ! Yaitu mereka menduga bahwa pemahaman tidak harus diiringi dengan keimanan. Padahal sebenarnya masing-masing dari dua hal tersebut (yaitu pemahaman dan keimanan) harus beriringan satu sama lainnya sehingga dia menjadi seorang mukmin. Hal itu karena kebanyakan ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani mengetahui bahwa Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah seorang rasul yang benar dalam pengakuannya sebagai seorang rasul dan nabi, tetapi pengetahuan mereka tersebut yang Allah Azza wa Jalla telah mepersaksikannya dalam firman-Nya: "orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al kitab (Taurat dan Injil) Mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri[97]. dan Sesungguhnya sebahagian diantara mereka Menyembunyikan kebenaran, Padahal mereka mengetahui. [Albaqarah: 146]

"orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka Mengenal anak-anaknya sendiri. orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah). [Al-An'am : 20]

Walaupun begitu, pengetahuan itu tidak bermanfaat bagi mereka sedikitpun ! Mengapa ? Karena mereka tidak membenarkan apa-apa yang diakui oleh beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berupa nubuwah (kenabian) dan risalah (kerasulan). Oleh karena itu keimanan harus didahului dengan ma'rifah (pengetahuan). Dan tidaklah cukup pengetahuan semata-mata, tanpa diiringi dengan keimanan dan ketundukan, karena Al-Maula Jalla Wa' ala berfirman dalam Al-Qur'an :

"Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada iIlah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. [Muhammad: 19]

Berdasarkan hal itu, apabila seorang muslim mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dengan lisannya, maka dia harus menyertakannya dengan pengetahuan terhadap kalimat thayyibah tersebut secara ringkas kemudian secara rinci. Sehingga apabila dia mengetahui, membenarkan dan beriman, maka dia layak untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan sebagaimana yang dimaksud dalam hadits-hadits yang telah saya sebutkan tadi, diantaranya adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai isyarat secara rinci :
"Artinya : Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka bermanfaat baginya meskipun satu hari dari masanya". [Hadits Shahih. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (1932) dan beliau menyandarkan kepada Sa'id Al-A'rabi dalam Mu'jamnya, dan Abu Nu'aim dalam Al-Hidayah (5/46) dan Thabrani dalam Mu'jam Al-Ausath (6533), dan dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu], yaitu : Kalimat thayyibah ini -setelah mengetahui maknanya- akan menjadi penyelamat baginya dari kekekalan di Neraka. Hal ini saya ulang-ulang agar tertancap kokoh di benak kita.

Bisa jadi, dari tidak melakukan konsekuensi-konsekuensi kalimat thayyibah ini berupa penyempurnaan dangan amal shalih dan meninggalkan segala maksiat, akan tetapi dia selamat dari syirik besar dan dia telah menunaikan apa-apa yang dituntut dan diharuskan oleh syarat-syarat iman berupa amal-amal hati -dan amal-amal zhahir/lahir, menurut ijtihad sebagian ahli ilmu, dalam hal ini terdapat perincian yang bukan disini tempat untuk membahasnya- (Ini adalah aqidah Salafus Shalih, dan ini merupakan batas pemisah kita dengan khawarij dan murji'ah). Da dia berada dibawah kehendak Allah, bisa jadi dia masuk ke Neraka terlebih dahulu sebagai balasan dari kemaksiatan-kemaksiatan yang dia lakukan atau kewajiban-kewajiban yang ia lalaikan, kemudian kalimat thayyibah ini menyelamtkan dia atau Allah memaafkannya dengan karunia dan kemuliaan-Nya. Inilah makna sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu :
Artinya : Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka ucapannya ini akan memberi manfaat baginya meskipun satu hari dari masanya". [Hadits Shahih. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (1932) dan beliau menyandarkan kepada Sa'id Al-A'rabi dalam Mu'jamnya, dan Abu Nu'aim dalam Al-Hidayah (5/46) dan Thabrani dalam Mu'jam Al-Ausath (6533), dan daia dari Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu]
Adapun orang yang mengucapkan dengan lisannya tetapi tidak memahami maknanya, atau memahami maknanya tetapi tidak mengimani makna tersebut, maka ucapan Laa Ilaaha Illaallah-nya tidak memberinya manfaat di akhirat, meskipun di dunia ucapan tersebut masih bermanfaat apabila ia hidup di bawah naungan hukum Islam.
Oleh karena itu, harus ada upaya untuk memfokuskan da'wah tauhid kepada semua lapisan masyarakat atau kelompok Islam yang sedang berusaha secara hakiki dan bersungguh-sungguh untuk mencapai apa yang diserukan oleh seluruh atau kebanyakan kelompok-kelompok Islam, yaitu merealisasikan masyarakat yang Islami dan mendirikan negara Islam yang menegakkan hukum Islam di seluruh pelosok bumi manapun yang tidak berhukum dengan hukum yang Allah turunkan.
Kelompok-kelompok tersebut tidak mungkin merealisasikan tujuan yang telah mereka sepakati dan mereka usahakan dengan sungguh-sungguh, kecuali memulainya dengan apa-apa yang telah dimulai oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, agar tujuan tersebut bisa menjadi kenyataan.
[Disalin dari buku At-Tauhid Awwalan Ya Du'atal Islam, edisi Indonesia TAUHID, Prioritas Pertama dan Utama, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal 16-26, terbitan Darul Haq, penerjemah Fariq Gasim Anuz]
Read Read Read yeah - MAYORITAS KAUM MUSLIMIN SEKARANG INI TIDAK MEMAHAMI MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAH DENGAN PEMAHAMAN YANG BAIK
MUST GO ON - MAYORITAS KAUM MUSLIMIN SEKARANG INI TIDAK MEMAHAMI MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAH DENGAN PEMAHAMAN YANG BAIK
                                                           

Apa Kata Dunia

8:15 PM                   Edit This               0 Comments  »
Fitnah “Nuzulul Qur'an"tanggal : 14/10/2006al-islahonline.com : Oleh: Hizbullah Mahmud *)

Tiap bulan Ramadhan umat Islam selalu diingatkan turunnya "nuzulul qur'an", Tapi, justru saat ini, rentetan fitnah terus menerpa. Setiap tahun, tepatnya setelah bulan Ramadhan umat Islam selalu mendapatkan kado menarik berupa "bulan Ramadhan". Didalam bulan ini banyak terjadi peristiwa yang bersejarah, seperti turunnya Al-Qur'an "nuzulul qur'an", malam Lailatul Qadr "Malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan", dan perang Badar Kubro.

Negara kita, "Indonesia" bahkan dianugerahi kemerdekaan juga pada bulan Ramadhan.Semenjak pertama kali Al-Qur'an diturunkan "nuzulul qur'an" tepatnya tanggal 17 Ramadhan, genderang dakwah Islam pertama mulai dikumandangkan oleh baginda Rasul. Al-Qur'an tidak diturunkan serta merta 30 juz namun secara berangsung-angsur "munajjaman" kurang lebih selama 23 tahun.

Hal ini bukan tanpa alasan, namun banyak sekali hikmah yang bisa diambil di dalamnya. Diantara hikmah tersebut, untuk memperkuat hati rasul serta menghilangkan sifat pesimis dalam menyampaikan dakwahnya kepada orang-orang musrik. Setiap ada cobaan dakwah, Al-Qur'an turun memberikan solusi dan penawar sehingga memberi ketenangan dan memperteguh kembali hati beliau.Ibarat cerita film, fitnah dan musibah selalu datang silih berganti merongrong otentisitas Al-Qur'an.

Di saat zaman semakin moderen, justru tantangan dakwah bertambah semakin berat. Bila pada masa dahulu para kaum kuffar hanya berani menentang syari'at yang disampaikan baginda Rasul, walaupun sebenarnya hati mereka yakin bahwa Al-Qur'an adalah kalam Allah. Saat ini, rujukan (masdar) utama umat Islam "Qur'an dan Sunnah" sudah tidak dihormati lagi apalagi disakralkan (taqdis), malah dianggap sebagai produk budaya (muntaj tsaqofi), atau tuduhan lain, misalnya menyebut; Hegemoni Arabisme dan Quraisy, ciptaan Nabi Muhamad dsb.

Yang lebih mengagetkan lagi mereka sudah berani menghina dan melecehkan sang pembuatnya "Allah swt.". Tengok kejadian pada beberapa saat lalu, seorang dosen salah satu perguruan tinggi di Surabaya dengan rasa tidak berdosa menginjak-injak lafadz Allah swt. Tidak kalah menarik apa yang dilakukan oleh salah seorang mahasiswa Aqidah Filsafat IAIN Bandung dengan lantang dan mengepalkan tangan meneriakkan kata "Kita Berdzikir Bersama Anjing Hu Akbar".

Bila tidak diantisipasi, bukan mustahil kasus yang serupa akan terjadi dimasa yang akan datang, bahkan mungkin lebih dahsyat dari dua contoh kasus diatas "Naudzubillah min dzalik".Larangan dan hukumanIbnu Qoyyim dalam kitabnya "Shorimul Maslul Ala Syatimi Rosul" menyebutkan, jika pelakunya beragama Islam maka harus dihukum mati berdasarkan ijma' jumhur Ulama, sebab pelakunya digolongkan sebagai kafir dan murtad, bahkan lebih jahat dibanding orang kafir kholis (tulen), sebab mereka hanya ingkar terhadap hukum Allah tapi tidak melecehkan apalagi menghina-Nya.

Menurut Ibnu Hazm, jumhur ulama telah sepakat tentang hal ini, hanya dua kelompok saja yang mengatakan perbuatan semacam ini pelakunya tidak digolongkan kafir dan murtad yaitu kelompok Jahmiyah dan As'ariyah sebab mereka menta'rifkan iman hanya sebatas pembenaran dalam hati saja tanpa harus dibarengi jawarih (perbuatan). Oleh karena tidak mengikuti pendapat jumhur kedua kelompok ini dikategorikan sebagai "munkarul ijma'. (Al-Muhalla Juz:11 Hal: 411 Oleh: Ibnu Hazm).

Bagaimana jika mereka bertaubat, lebih jauh Ibnu Qoyyim menjelaskan, jika mereka bertaubat ada dua pendapat dalam hal ini: Pertama: menurut Imam Ahmad dan Abi Khatab, tetap harus dihukum mati meski telah bertaubat. Kedua; menurut Imam Syafi'i, Qodi Abi Yu'la dan Syarif Abi Ja'far hendaklah diajak untuk bertaubat terlebih dahulu, jika menolak maka harus dihukum mati.Pada zaman rasul, ada seorang Yahudi yang menghinanya, kemudian salah seorang sahabat yang mendengar langsung membunuhnya. Ketika kejadian ini diceritakan kepada beliau, sahabat tersebut tidak disalahkan malah Rasul membenarkan tindakannya. Kisah selengkapnya bisa dibaca dalam (Sunan Abu Dawud juz:11 hal: 438 dan Sunan Kubro Lilbaihaqi Juz:9 Hal:200).

Lebih lanjut, Allah juga sudah memperingatkan melalui firmannya: "Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya didunia dan diakhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan". (QS Al Ahzab:57).Maksud "Menyakiti Allah dan rasul-rasulNya", yaitu melakukan perbuatan- perbuatan yang tidak di ridhai Allah dan tidak dibenarkan rasul- Nya; seperti kufur, mendustakan kenabian, melecehkan, menghina dan sebagainya. Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa penghinaan yang menimpa Nabi takkala menikahi Sofiyah. (Jami'ul Bayan Fi Ta'wilil Qur'an Juz: 30 Hal: 322 Oleh: Imam Thobari) Menurut Imam Ahmad, ayat diatas secara umum ditujukan kepada siapa saja yang menghina Allah dan rasulnya tanpa kecuali. Barangsiapa yang menghina Rasul maka sama saja menghina Allah dan barangsiapa yang mentaatinya maka dia telah mentaati Allah. (Tafsir Qur'anul Adzim Juz:6 Hal: 480 Oleh: Ibnu Katsir).Para senior pengusung faham Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme (Sipilis) seperti Nasr Hamid Abu Zayd dan Hasan Hanafi sekalipun belum berani secara terang-terangan menyerang dan melecehkan Al-Qur'an --mereka baru pada batas mengkritik atau dekontruksi terhadap keduanya-- para ulama Mesir dan Al Azhar sudah menghukuminya sebagai murtad dan kafir. Anehnya justru orang yang baru kemarin sore menjadi pengikutnya sudah berani melakukan hal yang lebih dahsyat dari itu. Tapi, barangkali, inilah rentetan musibah dan fitnah sedang menerpa umat Islam saat ini. (Hidayatatullah.com)*)

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo Fakultas Syari'ah Islamiyah.
Read Read Read yeah - Apa Kata Dunia
MUST GO ON - Apa Kata Dunia
                         

PUSING

8:05 PM                   Edit This               0 Comments  »

Zaman terus bergerak menggerus semua yang ada di lintasannya. Lantas yang tergerus pun menggerus lainnya. tidak ada kata tetapi, yang ada adalah perlawanan kepada siapa saja meski takdir berbicara lain.


Lantas? Orang-orang waras dan gila tidak tampak jauh beda. Yang beda hanyalah baju mereka.



Read Read Read yeah - PUSING
MUST GO ON - PUSING
                         

education

6:40 PM                   Edit This               0 Comments  »
Education of Stall

The entry of critical education stream in our education world increasingly opens concept stall opportunities to the old system and also in our education. Even the young intellectuals started from student, lecturer and education practitioner increasingly nuts, they are surprised with conceptual strength of critical education from Paulo Freire.

In this case, we are rather than anti to change. However we that need to take heed is about relevance concepts developed by Paulo Freire with our public. Mean that reasoning of sosio-kultural between Brazil as place which has borne figure Paulo Freire with refer to its the social system with Indonesia as nation of East that is of course has owned epithet as religion public clearly differs in. This viewpoint we ought to comprehend circumspectly. Till now we only are surprised at controversy concepts or idea and men-dunia, but we are careless in comprehending setting it’s the sosio-kultural.

The education masters we have mutually agreed to fully the meant with Pendidikan Critics is all idea which been developed by Paulo Freire (1921-1997). Has digagas have by Freire is not solely limited to education discourse only. But farther Freire has applied philosophic approach which then builds paradigm Pendidikan Critics.

Freire is education figure which is anti imperialism, exploitation at the same time grind to man potencies. Every grind, for him[s, cannot be tolerated because unmatched to humanity values. Because that is Freire haves a notion that education is for “humanizes man" (humanization). In comprehending philosophy framework Freire the good of we beforehand trace at root the problem which most basic from its (the idea. Freire by using approach of humanist builds it’s the education concept starts from man concept as active subject.

Freire highlights that in education there are three basal element namely; instructor, educative participant and world reality ( Mansour Faqih, Roem Topatimasang, Toto Rahardjo : 2001 : 40) Relation between first element with second element as does friend who complementary in process of study. Both doesn't function structurally is formal which later will dissociate both. Even Freire menengarai that relation between instructor and participant educated having the character of formal structural will only bear " education of bank style" ( banking concept of education).

" Education of bank style" is pattern the relation of contradiction that is each other depress. When instructor (teacher) placed on course above, hence educative participant (pupil) must below by receiving authority pressures of the teacher. Therefore education of like this will only bear grind and unmatched to fitrah. Freire is more wants that relation between teacher and pupil as does a friend or partnership. With model the relation of like this enables the education runs in dialogist and participators.

Position of instructor and participant educated by Freire categorized as subject " conscious" ( cognitive). Mean both this positions functioning pari pasu as subject in process of study. The role of teacher only represent from a friend (partnership) which good for its(the pupil. As for position of world reality becomes medium or object " what realized" (cognizable). Here the man learning from its(the life. That way man in confectioning education of Freire discovers position as active subject. Man then learning from reality as study medium.

Basically the man has "freedom" (freedom) in choosing and doing, even in determining his own chance. This is fitroh man who by Freire conceived of the man's ontological vocation. Because freedom in choosing, develops potency is fitrah man, hence every grind denying man potency by Freire seen as not to be humanitarian. Therefore s(he is menggagas that education is "process" for "humanizes man" (humanization).

In condition of social the pulled over (marginal) there are some characters typical of which then bears complex problem. Grind is one of between it is namely when power authority is more dominantly and exploits man without fair a few also. With position of fear from marginal clan that is which then increasingly creates difference in social life. People who is pulled over that then increasingly light, over a barrel or increasingly dissolves in "mute culture" (submerged indium the culture of silence).

They unable to fight against authority a group of man that is in command because of course unable to comprehend x'self and social reality. One of problem causing them cornered to be continuous is illiterate public factor, blind of discourse etcetera. To change condition of oppressed public social that is, Freire said movement "resuscitation" ( William A Smith; 2001: xvii). As business is freeing man from backwardness, mute stupidity or culture the always fearful.

Intention from movement of this resuscitation is that man can recognize reality (area) at the same time their/his self. Man can comprehend condition of it’s the situated behind life of that critically. Minimum with effort for the resuscitation, man can comprehend condition of their/his self and can analyze problems causing it. In This Case Freire maps awareness typology of man in four categories; Firstly, Magic Consciousness, Both Naval Consciousness; Third Critical Consciousness and Keempat, or which very top is Transformation Consciousness.

Magical Awareness is awareness type very determinis. A man unable to comprehend reality at the same time their/his self. Even in facing everyday life of s/he is more trusts in strength of taqdir which has determined. That s/he must live poor, amentia, situated behind etcetera is a "suratan takdir" (destiny) which cannot be assayed.

Naive Awareness is awareness type that is a few above its the levels compared to before ally. Naive awareness in new man x'self limited to understanding but less can analyze social problems related to elements that are supporting a problem social. He is new simply understanding that the oppressed x'self, situated behind and that atypical. But indigent to map systematically problems that is supporting a problem the social. More than anything else to submit a solution bargain from problem social.

Awareness of Stall is most ideal type among awareness type before all. Critical awareness had the character of analytical at the same time praxis. The someone can comprehend social problem started from problem mapping, identification and can determine elements influencing it. Side that is s(he can offer solutions alternative of from a problem social.

Awareness of Transformative is top from stall awareness. In other term of this awareness is " it’s the awareness" (the concise of the consciousness). People more and more praxis in formulating a problem. Between ideas, word and action and progresifity in state of balance. Awareness of transformative will make the man really in degree of as man who perfect.

After passing resuscitation process, education will be able to free man from human life shackle. In process of this end, education will free man at the same time returns at potencies fitri. Meaning " freedom" (liberation) is Liberation of man from grind shackles pursuing life inveterately.

In this case process of Liberation has indication like; optimism, resistant and stall. This optimism position built man as hopeful figure. As for position resistant is man character which most elementary when getting pressures either in physical and also psychical from power. While position of stall is manifestos from position of someone capable to comprehend condition of social and x'self in tussle directly with other man.

*) By Mu'arif. Writer is former director Forum Study Freire IMM IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Now becomes journalist at magazine Suara Muhammadiyah.

Translated by: Wisnu Sujianto DH


Read Read Read yeah - education
MUST GO ON - education
                         

OPINI_2

7:08 PM                   Edit This               0 Comments  »
Berikut opini yang menentang atau mengelirukan poligami. Anda setuju atau tidak: TERSERAH (Wisnu, PPMI Assalaam) Baca aja yang cermat ya!


Potret (Keliru) Poligami

Rabu, 13 Desember 2006
Kesalahan perjuangan para aktivis perempuan adalah lebih menghormati PSK dan perempuan simpanan daripada mereka yang mau jadi istri kedua

Oleh Sirikit Syah

Sahabat saya dr Nalini Agung menelepon hanya untuk menyampaikan komentar kerasnya. "Ada tiga jokes of the year tahun ini, laki-laki semua. Aa Gym, Yahya Zaini, dan Akhmad Dani," katanya dengan nada jengkel. Menurut perempuan cantik dan pintar itu, Yahya, yang tampil bisu di sisi istrinya di hadapan publik Kamis malam lalu, "Adalah laki-laki bertubuh besar, bernyali ciut. Ada persoalan dengan istri, lari ke perempuan lain. Kini ada persoalan dengan perempuan lain, berlindung kepada istrinya."

Tentang Aa Gym, Nalini tidak banyak berkomentar, selain, "Ternyata, Aa Gym manusia biasa juga." Namun, Nalini tak dapat menoleransi kepongahan suami bernama Akhmad Dani. "Suami macam itu, kalau saya jadi Maia, wis tak tinggal."

Tiga lelaki "jokes of the year", istilah bagus temuan seorang perempuan berpendidikan dan berkarir, yang juga ibu rumah tangga yang baik. Di kalangan pemerintah, Presiden SBY tak berkomentar sepatah kalimat pun mengenai kasus YZ-ME, malah mempersoalkan regulasi perkawinan poligami seolah-olah itu ancaman nasional.

Di lapangan, berbagai kelompok masyarakat, antara lain mahasiswa Universitas Muhamadiyah Jogjakarta, berdemo menentang poligami. Ibu-ibu muslimat memboikot pengajian Aa Gym. Sangat mengherankan, tak ada masyarakat yang berdemo memprotes YZ, wakil rakyat yang melakukan skandal seks.

Dunia sudah terbolak-balik. Aa Gym -yang menikah dengan uang sendiri dan mendapat rida istri- dihujani kecaman lebih keras daripada pelaku perzinahan dan perselingkuhan dengan menggunakan uang rakyat/negara.

Potret Poligami

Seperti yang dikatakan Aa Gym, poligami sudah sangat dikelirukan maknanya. Yang melakukan misleading atas makna poligami itu termasuk di antaranya pemerintah, para pemimpin negara, tokoh masyarakat, aktivis perempuan, dan media massa. Poligami telah dipotret sebagai kejahatan dan kekerasan pada perempuan dan anak-anak.

Alih-alih mendengarkan penjelasan Aa Gym dan Teh Ninih, istrinya, masyarakat lebih suka mendengarkan sumber-sumber yang tidak layak bicara. Bagaimana kita percaya pandangan Farhat Abbas tentang poligami? Dia sendiri suami yang gemar mempermainkan perempuan dan membohongi istrinya.

Juga, mengapa mendengarkan Sandy Harun yang tak setuju poligami atau berbagi suami? Look who’s talking. Dia adalah "the other woman", yang kemudian dinikahi. Dalam status sebagai istri Djodi, dia berhubungan dan punya anak dengan Tommy Soeharto. Dalam kata lain, Sandy adalah pelaku poliandri, sebuah tindakan melanggar hukum. Orang seperti itu akan kita dengar pendapatnya?

Kekecewaan masyarakat yang luar biasa kepada Aa Gym sebetulnya dipicu oleh pemujaan berlebihan pada sosok kiai muda itu. Ibu-ibu membanjiri pengajiannya dan rela antre berbulan-bulan hanya untuk bisa mengunjungi pesantrennya di Bandung. Aa dipandang sebagai dewa. Ketika Aa melakukan hal yang manusiawi (bersifat manusia), masyarakat terkejut dan patah hati. Kebanyakan orang kecewa karena Aa sering mendengung-dengungkan konsep keluarga sakinah. "Sakinah apaan, bohong besar," kata sementara orang.

Apakah keluarga sakinah tak dapat tercapai dengan tindakan Aa menikah lagi? Apakah keluarga sakinah tidak mungkin dialami keluarga poligami? Saya melihat keluarga poligami Aa Gym lebih sakinah daripada banyak keluarga nonpoligami.

Pembelokan (bila bukan pemelintiran) makna poligami -dari sebuah solusi menjadi tindak kejahatan- itu hanya skala kecil upaya pemerintah untuk menutupi amburadulnya pengelolaan negara belakangan ini. Ketua DPR menyalahgunakan voucher pendidikan, anggota DPR terlibat skandal seks yang videonya merebak ke seluruh msayarakat, lumpur Sidoarjo tak tertangani, angka kemiskinan meningkat, rakyat tak punya bahan bakar untuk memasak, BUMN yang terus merugi atau kalau untung dijual.

Kekeliruan masyarakat terjadi ketika mereka selalu membenarkan persepsinya sendiri. Di antaranya, dengan kalimat "Mana ada perempuan mau dimadu." Kenyataannya, banyak peremuan bersedia dimadu. Lalu, "Ya, tapi mereka pasti tertekan dan menderita." Lagi-lagi, sebuah upaya pembenaran antipoligami.

Perempuan lain boleh pura-pura atau acting. Namun, kita tak dapat menuduh Teh Ninih hipokret, bukan? Dia dengan wajah bersinar menyatakan ikhlas dan rida suaminya menikah lagi. Bahkan, mimik, gesture, dan body language Ninih dan Aa selama jumpa pers menunjukkan bahwa mereka masih saling (bahkan lebih) mencintai.

Saya percaya mereka telah mendapatkan hikmah. Masyarakat tak mau menerima kenyataan itu. Mereka menolak fakta kebenaran. Bukan Aa dan Ninih yang hipokret, melainkan kita sendiri.

Poligami bukan anjuran, apalagi kewajiban. Seperti kata Aa, "Jangan menggampangkan." Aa tentu saja sah berpoligami karena dia bukan PNS, dia mampu, dan memiliki ilmu serta potensi untuk berbuat adil. Banyak laki-laki tak bertanggung jawab bersembunyi di balik UU Perkawinan yang melarang poligami dan meneruskan tindakan bejatnya mempermainkan perempuan tanpa status perkawinan sah.

Poligami yang baik dilakukan dengan cara kesepatakan suami istri, kompromi, atau persuasi. Setiawan Djodi berhasil mempersuasi istrinya untuk menerima kehadiran Sandy Harun. Ray Sahetapy gagal karena Dewi Yull memilih bercerai.

Sebagai perempuan muslim, kita boleh stay on atau quit dalam perkawinan poligami. Alasan quit jelas: enggan berbagi. Alasan stay on: mencintai suami dan tak ingin kehilangan atau tak berdaya secara ekonomi dan sosial.

Kesalahan perjuangan para aktivis perempuan adalah lebih menghormati PSK dan perempuan simpanan yang independen daripada mereka yang mau jadi istri kedua. Para istri pertama yang ikhlas, yang seharusnya mendapat apresiasi dari kita, malah didudukkan sebagai korban yang perlu dikasihani.

Banyak gerakan perempuan yang didukung pemerintah meneriakkan yel-yel antipoligami. Sitoresmi yang menjadi istri keempat Debby Nasution dipecat dari LSM-nya di Jogjakarta karena dianggap "tidak berdaya".

Pada intinya, UU Perkawinan yang membatasi perkawinan poligami hanya melindungi para istri pertama yang enggan berbagai hak dengan sesama perempuan (padahal diteriakkan persamaan hak dengan laki-laki). Lebih buruk lagi, UU itu melindungi laki-laki hidung belang yang tak mau bertanggung jawab. Itu sama tak bertanggung jawabnya dengan laki-laki yang berpoligami, padahal tidak mampu, tidak adil, dan tak mendapat restu istri pertama.

*) Penulis adalah ibu rumah tangga, aktif sebagai pengarang. Tulisan ini diambil dari Jawa Pos edisi Rabu, 13 Des 2006


Read Read Read yeah - OPINI_2
MUST GO ON - OPINI_2
                         

OPINI_1

6:52 PM                   Edit This               0 Comments  »
Poligami dan Gerakan Feminisme Global
Kamis, 04 Januari 2007
Metode tafsir feminis mungkin tepat untuk diterapkan hanya pada Alkitab sebagai bentuk solusi terhadap “Sabda Allah” dalam bahasa manusia. Bukan pada Al-Quran

Oleh Henri Shalahuddin, MA

Di penghujung tahun lalu, perhatian masyarakat terfokus pada dua isu heboh yang sejatinya saling berlawanan; yaitu video mesum duet YZ-ME dan poligami Aa Gym. Berlawanan baik dalam sisi etika, moral maupun agama. Dari ketiga sisi ini, jelas semua orang akan mengatakan bahwa adegan video mesum tersebut mutlak salah dan amoral. Sedangkan tentang isu poligami, semua orang tidak akan pernah sepakat mengatakan bahwa poligami Aa Gym itu mutlak salah. Karena dalam agama, memang poligami diperkenankan dengan beberapa cacatan. Namun anehnya, justru pemerintahan SBY lebih "mengurusi" isu poligami dengan meninjau kembali undang-undang (baca: mempersulit) poligami.

Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah kenapa pemerintah lebih mengkonsumsi isu poligami yang telah lama eksis di masyarakat? Apa dan siapa di balik niat pemerintah mengkaji ulang undang-undang poligami?

Memang tidak mudah untuk menjawab pertanyaan di atas secara cepat dan tepat. Sebab diperlukan riset yang tidak sederhana. Tapi bagaimanapun, bila ditinjau dari bingkai feminisme, penolakan poligami adalah bagian dari isu ini. Paham feminisme adalah setali tiga uang dengan paham-paham sekularisme, liberalisme dan pluralisme agama. Feminisme dalam kamus Oxford didefinisikan sebagai advocacy of women’s right and sexual equality (pembelaan terhadap hak perempuan dan kesetaraan pria-wanita). Namun dalam perkembangannya, paham feminisme menuntut penggunaan bahasa gender-inclusive, seperti kata chairwoman untuk menggeser chairman, dsb.

Dalam strata sosial, feminisme menuntut hal-hal seperti: legalisasi undang-undang pro-aborsi, hak wanita untuk memilih sebagai ibu rumah tangga atau meninggalkannya, hak mensterilkan kandungan (female genital cutting), dsb. Sedangkan dalam agama, feminisme menuntut penafsiran bercorak feminis terhadap kitab suci, kesamaan waris, hak talak bagi wanita, tidak wajib berjilbab karena jilbab adalah simbol pengekangan berekspresi dan pelecehan eksistensi sosial wanita, pengharaman poligami, menuntut pemberlakuan masa iddah bagi laki-laki, dsb.

Tafsir feminis terhadap Kitab Suci

Dalam buku Penafsiran Alkitab dalam Gereja: Komisi Kitab Suci Kepausan yang edisi aslinya berjudul The Interpretation of the Bible in the Church, the Pontifical Biblical Commision (Kanisius:2003), dijelaskan bahwa asal-usul sejarah penafsiran kitab suci ala feminis dapat dijumpai di Amerika Serikat di akhir abad 19. Dalam konteks perjuangan sosio-budaya bagi hak-hak perempuan, dewan editor komisi yang bertanggung jawab atas revisi (tahrif) Alkitab menghasilkan The Woman's Bible dalam dua jilid. Gerakan feminisme di lingkungan Kristen ini kemudian berkembang pesat, khususnya di Amerika Utara.

Dalam perkembangannya, gerakan feminis ini memiliki 3 bentuk pendangan terhadap Alkitab, Pertama; yaitu bentuk radikal yang menolak seluruh wibawa Alkitab, karena Alkitab dihasilkan oleh kaum laki-laki untuk meneguhkan dominasinya terhadap kaum wanita.

Kedua, berbentuk neo-ortodoks yang menerima Alkitab sebatas sebagai wahyu (profetis) dan fungsinya sebagai pelayanan, paling tidak, sejauh Alkitab berpihak pada kaum tertindas dan wanita.

Ketiga, berbentuk kritis yang berusaha mengungkap kesetaraan posisi dan peran murid-murid perempuan dalam kehidupan Yesus dan jemaat-jemaat Paulinis. Kesetaraan status wanita banyak tersembunyi dalam teks Perjanjian Baru dan semakin kabur dengan budaya patriarki.

Lebih lanjut, Letty M. Russel dalam bukunya Feminist Interpretation of The Bible yang telah diindonesiakan dengan tema Perempuan & Tafsir Kitab Suci, menjelaskan lebih rinci 3 metode tafsir feminis terhadap Alkitab. Ketiga metode ini adalah: a) Mencari teks yang memihak perempuan untuk menentang teks-teks terkenal yang digunakan untuk menindas perempuan. b) Menyelidiki Kitab Suci secara umum untuk menemukan perspektif teologis yang mengkritik patriarki. c) Menyelidiki teks tentang perempuan untuk belajar dari sejarah dan kisah perempuan kuno dan modern yang hidup dalam kebudayaan patriarkal.

Maka berbekal ketiga pendekatan ini, mereka kemudian menafsirkan beberapa ayat Bibel yang dipandang menindas wanita. Di antara ayat-ayat Bibel yang ditafsirkan secara feminis adalah sebagai berikut:

1. Perempuan diciptakan sesudah laki-laki, dari tulang rusuknya (Kejadian 2:21 -23). Ayat ini kemudian ditafsirkan dengan kesetaraan derajat antara laki-laki dan perempuan.

2. Perempuan lebih dahulu berdosa, karena perempuanlah yg terbujuk oleh ular untuk makan buah terlarang (kejadian 3:1-6 dan 1Timotius 2:13 -14) bahkan dilarang memerintah dan mengajar laki-laki (1Timotius 2:12 ). Ayat ini ditafsirkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan sama-sama bertanggung jawab atas ketidakpatuhan mereka kepada Tuhan dan sama-sama tertipu oleh bujukan ular.

3. Perempuan tidak mempunyai hak bicara dan harus tutup mulut di gereja (1Korintus 14:34 -35). Ayat ini ditafsirkan sebagai nasehat “khusus” untuk mengatasi kekacauan dalam jemaat Korintus dan tidak berlaku secara umum (di luar jemaat Korintus).

4. Derajat perempuan di bawah laki-laki dan dia harus tunduk kepada suaminya seperti kepada Tuhan (Efesus 5:22 -23). Ayat ini ditafsirkan bahwa dalam berumah tangga, perempuan dan laki-laki harus saling merendahkan diri.

Metode tafsir feminis mungkin tepat untuk diterapkan pada Alkitab sebagai bentuk solusi terhadap Sabda Allah dalam bahasa manusia, yang dikarang oleh banyak manusia dalam semua bagiannya melalui sejarah yang panjang dengan sekitar 5000 ragam manuskrip Bibel yang tidak mudah didamaikan antara satu dan lainnya.

Namun corak penafsiran feminis jelas tidak tepat bila diterapkan pada Al-Qur'an yang mempunyai karakter yang berbeda dengan Alkitab. Anehnya, bagi kalangan liberal Islam, metode ini dipaksakan terhadap studi Al-Qur'an.

Sebagai contoh, Nasr Hamid Abu Zayd, pemikir liberal Mesir yang dimurtadkan oleh 2000 ulama negerinya dan saat ini banyak dianut di kebanyakan IAIN, secara tegas meniru tradisi umat Kristen ini. Dalam memandang ayat-ayat Al-Qur’an tentang wanita, Abu Zayd selalu menafsirkan ala feminis yang berawal dari sikap curiga dan dalih sistem patriarkis yang melatarbelakangi masyarakat Arab abad 7M. Kemudian membenturkannya dengan ayat-ayat yang dapat mengkritik dominasi laki-laki. Sehingga ayat-ayat yang terkesan ‘menindas wanita’ ditafsirkan dalam bentuk kesetaraan hak, kesamaan bagian, kedudukan dan tanggung jawab.

Abu Zayd, dalam bukunya Voice of an Exile (2004:174-175), memandang Al-Quran layaknya seperti umat Kristen terhadap Bibel. Dalam isu gender, dia mempertanyakan: Apakah setiap yang termaktub dalam Al-Quran adalah firman Allah yang harus diaplikasikan? Dia berpendapat bahwa Al-Quran mempunyai dua dimensi; dimensi historis dan dimensi mutlak. Lalu menganalogikannya dengan Bibel dalam pandangan Kristen: “According to Christian doctrine, not everything that Jesus said was said as the Son of God. Sometimes Jesus behaved just as a man”.

Kesimpulan

Legalisasi pengetatan undang-undang poligami cenderung berkiblat pada paham feminisme. Feminisme adalah bagian yang tak terpisahkan dari paham-paham liberalisme, sekularisme dan pluralisme agama yang berakar tunjang pada tradisi Kristen. Feminisme sebagaimana paham Sipilis bukan lagi sekedar wacana, tapi telah menjadi gerakan nyata yang dikampanyekan di kebanyakan perguruan tinggi dan media massa.

*) Penulis adalah Sekretaris Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS)
CATATAN:
1. Anda boleh setuju atau tidak. Semua dikembalikan kepada niat baik dan kemampuan intelektual pembaca. Komentator (saya) sendiri tidak setuju dengan poligami, bahkan menurut penafsiran saya ayat ketiga dari Surat Annisaa’ Allah sama sekali tidak menganjurkan untuk berpoligami. Allah ‘nglulu’ (bhs. Jw) kepada laki-laki karena kaum ini suka sekali menganiaya dirinya sendiri dan membangga-banggakan kemampuan/kekuasaannya yang sama sekali sebetulnya tidak dimilikinya.
2. laki-laki miskin sebaiknya tidak berpoligami deh. Bisa kacau bin remuk.
3. mending kawini pembantu rumah tangga (sebab budak sudah bukan zamannya lagi) supaya naik derajatnya dan bisa berpura-pura kaya.

Ditunggu komentar ANDA!
Wisnu, PPMI Assalaam Surakarta


Read Read Read yeah - OPINI_1
MUST GO ON - OPINI_1